roscoradio.co.id – Indonesia kaya akan tradisi dan budaya. Tidak hanya budaya asli nusantara, tapi juga perpaduan berbagai budaya yang melebur ke dalam jiwa nusantara. Seperti budaya peranakan Tionghoa yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.

Wayang Potehi, pertunjukan seni tradisional berupa boneka kain khas China merupakan seni pertunjukan peranakan Tionghoa yang sampai saat ini masih dipertahankan. Wayang Potehi menyajkan pertunjukan yang kental dengan nuansa kerajaan. Cerita yang dibawakan berhubungan erat dengan nasihat tentang kebijaksanaan, kesetiaan, dan cerita bersifat edukatif lainnya. Jadi, pertunjukan wayang Potehi tidak hanya menyajikan hiburan yang bersifat entertain, tapi juga mengandung unsur pendidikan.

Di Indonesia, hanya ada empat kota yang melakukan regenerasi dan pelestarian seni wayang Potehi. Kota-kota tersebut, diantaranya Gudo di Jombang, Blitar, Tulungagung dan Surabaya. Tapi yang benar-benar memiliki ciri khas sebagai pembuat wayang Potehi sampai tempat belajarnya dalang ada di Gudo, Jombang Jawa Timur.

P_20170119_115110

Awalnya pertunjukan Potehi hanya digelar pada saat momen perayaan masyarakat Tionghoa seperti Imlek dan ulang tahun dewa-dewi. Sekarang semakin berkembang di berbagai mall, galeri seni, museum sampai ke pondok pesantren.
Ardian Purwoseputro salah satu pengurus Yayasan Po Tee Hie Fu He An Jombang mengatakan, meski wayang Potehi merupakan seni tradisional dari Tiongkok, tapi di Indonesia justru banyak dimainkan oleh orang pribumi.

“Kebanyakan yang jadi Dalang wayang Potehi orang Jawa. itu menariknya justru pelakunya bukan orang Tionghoa,” ujarnya kepada reporter Primaradio. Hal ini membuktikan seni dan budaya mampu mempersatukan masyarakat Indonesia yang majemuk.

Seni wayang Potehi di Indonesia tetap mempertahankan keaslian tradisional. Berbeda dengan negara lain, misalnya di Tiongkok, pertunjukan wayang Potehi justru mengikuti perkembangan zaman, baik dari boneka kain sampai musik pengiring pertunjukan.

P_20170119_120327

Satu hal lainnya yang ikut membanggakan Yayasan Po Tee Hie Fu He An Jombang adalah sejak 2014 seni pertunjukan wayang Potehi sudah go internasional. Ke Jepang, Taiwan dan Malaysia.

“Kedepannya kita juga berencana melakukan pertunjukan di Belgia. Tidak tanggung-tanggung, semua pertunjukan yang digelar di luar negeri menggunakan bahasa Indonesia,” tambah Ardian.

Ulet, Kunci Sukses Jadi Dalang

Setiap pertunjukan wayang Potehi minimal ada lima orang yang memiliki peran penting selama berlangsungnya pertunjukan. Dua dalang, terdiri dari satu dalang utama dan satu asisten dalang. Sisanya bertindak sebagai pemain musik.

Salah seorang dalang profesional dari Yayasan Po Tee Hie Fu He An Jombang, Purwanto yang menjadi dalang sejak tahun 1980 mengaku tidak mudah menjadi seorang dalang.

“Awalnya saya selama 8 tahun menjadi asisten paman saya di Kelenteng Eng An Kiong , Malang. Setelah mahir memegang dan memainkan karakter wayang, baru berani jadi dalang utama,” katanya.

P_20170119_115440

Purwanto juga mengatakan, seorang dalang wajib menguasai minimal 5 macam suara. Mulai dari suara orang tua, anak-anak, perempuan dewasa, perempuan muda dan karakter suara yang menjadi lakon dalam pertunjukan.
Tidak mudah bukan? Tapi akan menjadi kepuasan dan kebanggan tersendiri kalau berhasil menjadi dalang profesional. (bee/joe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here